siejak

Berkarya Untuk Sang Maha Karya

#2 Kosakata Menikah

R: Mau nanya boleh?

A: Iya, silahkan saja.

R: Menurutmu menikah itu apa? *ceritanya si A akan menikah*

A: Menikah itu membangun peradaban #tsaah

R: Udah sesingkat itu?

A: Hahah, tetapi kan membangun peradaban emang ga sesingakat itu R.

Ya, ini percakapan saya (R) dengan sahabat yang akan menikah beberapa bulan kedepan, mohon doanya dilancarkan dan dijodohkan, sejujurnya saya tidak kaget dengan informasi ini. Praduga mengenai ini udah lama muncul, namun entah kenapa saya tetap saja kesal ketika baru saja tau kenyataan informasi ini. Mungkin cemburu.

#eits

Cemburunya bukan karena dia menikah dengan laki-laki itu yaa, dia udh saya anggap sahabat hingga kakak, tak akan pernah lebih haha. Saya cemburu dengan usaha laki-laki itu, usaha yang membuahkan hasil. Mungkin –pasti sih- laki-laki itu usahanya tak mudah, mulai menyakinkan diri, orang tuanya, orangtua si A hingga si A. Dan saya cemburu, usaha saya mungkin masih belum besar, hingga doa-doa itu belum bertemu dengan si empunya.

Kalau kata si A ketika saya bercerita panjang lebar soal topik ini, dia bilang ” Menikah pada waktu yang tepat, nunggu ga papa, kan nunggu yang halal, saat berbuka insyaAllah kerasa nikmatnya, seperti puasa ”

” Menikah itu yang sekufu, yang sama visi misinya ” lanjut di salah satu cerita dia siang ini.

” Iman ga diliat dari hapalan quran, hadits dan bahasa arab, iman itu di hati. Ada kok orang yang hapalannya ga seberapa, bahasa arabnya boro2, tapi selalu ada Allah di hatinya, jadi urusannya kayak dihandle sama Allah gitu, dan dikasihnya (calon pendamping) juga ga main2 ” usaha dia lagi untuk memberi pandangan lain mengenai sekufu ini dari pikiranku.

Kalau boleh jujur.. saya minder.

Kalau boleh jujur.. saya masih ingin berjuang.

Kalalu boleh jujur.. saya benar-benar menggantungkan pada Allah. Di balik was-was akan kehilangan.

Boleh mabuk, karena cinta.

Boleh cinta, karena Allah.

Sekian. Semoga pengingat pribadi lagi, dan yang membaca bisa memperkuat. Ini ujian iman, ujian percaya dengan kenyataan, alias takdir (qada dan qadar).

jelek, lucu.

#1 Kosakata Menikah

Menikah itu bukan memasuki pintu surga, tetapi memasuki pintu rumah.

Karena tak semua pernikahan berbuah surga, dan tak ada manusia yang sempurna.

Berjuang bersama untuk menuju surga itulah yang buah pernikahan.

— Kak Hafidz

 

ceritanya sedang mengumpulkan kisah-kisah pernikahan, mulai yang menikah muda hingga di waktu senja. semoga bisa menjadi pembelajaran ketika benar-benar saya menikah.

Relawan yang ditolong

day1

Pada dasarnya sebuah tindakan akan menghasilkan tindakan lainnya. Hukum aksi reaksi yang ditemukan Pakde Newton itu benar adanya.

Pun saat menjadi relawan, tidak sepenuhnya yang menolong adalah dia. Pekerjaan relawan memang bertujuan membantu yang kurang mampu. Tetapi sadarkah kita, saat menjadi relawan, kita bisa belajar arti sabar, ikhlas hingga berjuang.

Mungkin yang ditolong adalah kondisi orang yang kurang mampu secara kasat mata tetapi saat diselami lagi, yang menolong pun ditolong dari ‘kurang mampu’ lainnya, yang hanya dapat dilihat oleh hati dan dirasakan dengan aksi.

Karena, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Simbiosis mutalisme.

*target desain lainnya, akhirnya mindahin target IG ke web juga -.- *

Salah Seperkian Hakikat Cinta

day2

Sudah tidak terhitung lagi, manusia yang menganalogikan cinta. Entah berbentuk sajak puisi hingga menjadi artikel ilmiah. Mungkin sudah ada yang menjadikan judul skripsi #eh.

Karena pada dasarnya, cinta adalah pembahasan yang tak pernah hilang serunya, apalagi meweknya. Kalangan bayi (cinta orangtua ke anak) hingga yang berhasil mengejar halalnya dan menjaga sampai bertemu di surga kelak (semoga).

Ya cinta adalah hidup menurut saya. Ia bisa diubah menjadi kata kerja hingga kata benda ataupun imbuhan. Karena cinta juga diciptakan, yang kelak juga dihilangkan oleh-Nya.

Sudah kah kita mencintai Sang Pemilik Cinta? Melebihi dari apapun?

Saya sedang belajar dan terus belajar. Seperti qoute salah satu kawan nulis ini:

” Adakalanya cinta itu tumbuh menjadi buah yang selalu akan ditanamkan kembali. Meskipun buahnya pun terkadang berulat, namun cinta itu akan selalu tumbuh seiring perjalanan yang disemaikan benih-benihnya “

*ceritanya draft tulisan untuk hari 3 menulis cinta belum rampung, jadinya nge-post tulisan di Instagram, yang juga menjadi proyek sendiri, mendesain selama ramadhan, maafkan yang banyak mikir ini, jadi nelat dan gak panas from the oven tulisannya*

Ada yang berkata

COVERDEPANCOBAKRENNGGAputih COVERNELAKANGCOBAKERENNGGAputih

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamu selalu begitu.. menjadi mandiri dan berkata tolong ketika memang butuh. Selalu pintar mengapresiasi orang, peka bahasa lainnya. Dan selalu membuat aku belajar dan terus belajar, bahwa kata lain dari hidup adalah belajar.

Terima kasih, jazakumullah khairan katsir. Semoga selalu saling membantu ya, 🙂

Mencintai Jarak

stiker_jagajarak2

Jarak… siapa yang tak mengenal jarak. Langit dan lautan yang luas seperti tak ada ujungnya pun, memiliki jarak antar keduanya. Sangat luas malahan, salah satunya keberadaan kita sendiri.

Jarak… dua sejoli yang telah berhasil mengejar halal pun akan tetap merasakan jarak. Si laki pergi mencari nafkah dan si perempuan menjaga nafkah. Ada jarak yang memisahkan mereka, walaupun jaraknya sudah pasti namun waktu bermain disini. Sebagai tantangan.

Jarak… makhluk yang berasal dari rahim yang sama -atau dengan si pemilik rahim pun tak semuanya sepakat saling dekat. Kisah perkelahian antar adik dan kakak yang berakhir menghilangkan nyawa, tak hanya ada satu cerita yang mewakilinya. Pun, ketika kita menyelami lagi diri ini, apakah sudah benar-benar kenal ibu dan bapak kita? sudahkah memprioritaskan mereka diantara kesibukan kita? lagi dan lagi ada jarak. Tidak hanya berupa kasat mata yang diwakili jauhnya posisi, namun hati kita pun berjarak. Jarak berupa ego.


Ya.. hari ini pun saya belajar arti jarak dari seorang tukang cukur. Sebenarnya banyak yang ingin saya tulis hasil ngobrol bareng tukang cukur ini, mungkin inilah jawaban yang saya cari dalam beberapa pekan ini. Nasehat dari-Nya itu selalu tak terduga hadirnya ya.. semoga saya disempatkan untuk berbagi hasil ngobrol lainnya di kisah lainnya.

Si tukang cukur (yang saya lupa tanyakan namanya) menanggapi dengan sangat bijak jawaban saya ketika saya ditanya olehnya, ” Aa, potong cepak buat lamar kerja ya? mau kemana rencana emangnya aa’?

Saya pun menjawab, ” Mungkin bisa jadi aa’, tetapi ini potong cepak karena sayanya risih rambutnya kalau lebat hehe ”

” Ooh.. tetapi aa’ udah lulus? ” sanggah dia lanjut.

” Alhamdulillah aa’, februari kemarin saya diperbolehin lulus, hehe. Tetapi sayangnya jarak februari sampai sekarang, saya belum saja dapat kerjaan tetap aa’ ” jawabku yang saya selipkan sedikit curcol (haha entah kenapa ingin aja curcol)

” Yaa.. begitu hidup aa’. Masa depan hanya bisa diraih dengan sabar, berusaha -termasuk berdoa jangan lupa dan bersyukur. Jaraknya tak terlihat memang, tetapi kuncinya itu. ” jawabnya, sambil memitak kepala ini -untung saja dia ngasih nasehatnya tak berapi-api, bisa saja cara mitaknya jadi berapi-api dan salah mitak nih kepala hehe.

bener sih aa’, tetapi … ” jawabku dalam hati sambil menganggukan kepala sebagai simbol mengiyakan.

” Tak ada kata tetapi di sini aa’ … ” sepertinya si aa’ jago isi baca hati orang juga nih.

” Tak ada kata tetapi di sini aa’ karena, semua tergantung apa yang ingin kita capai. Banyak kiai/ustadz yang pada akhirnya mengejar dunia juga, mereka berlomba-lomba pakaian apa yang ingin dipakai. Semua berasal dari Allah, itu bukan yang ingin kita capai, eh maaf sebelumnya aa’ ini buat kita yang muslim ” jawabnya.

Dalam hati ini pun berpikir, wajah saya emang tidak shaleh ya. Harus banget ditekanin kata terakhir tadi, hehe.

Masa depan itu jarak antara kita di masa kini dengan usaha apa yang kita usahakan. Dan cara mencintai jarak, yaa dengan sabar, ikhlas dan berusaha. ” jawabnya sambil menyiapkan cutter kumisnya.


Yaa begitulah jarak, ia ada untuk memisahkan, tetapi bukan berarti akan terpisah.

Langit dan lautan pun suatu saat akan bertemu, ketika langit turun ke laut dan laut naik ke langit. Saat kiamat.

Dua sejoli ini pun akan bertemu ketika berhasil melawan waktu yang diwakili rasa rindu. Ketika rasa tanggung jawab telah dilaksanakan.

Keluarga utuh ini pun akan bertemu, ketika saling menurunkan egonya secara bergantian. Si anak menghubungi duluan untuk menanyakan kabar orang tua, kedua orang tua memberikan kepercayaan kepada si anak untuk memilih kesibukannya, dan adek kakak yang mengenal fungsi adek dan kakak seutuhnya. Maka, doa akan menjadi benang bertemunya keluarga utuh ini untuk direunikan di surga.

Yaa.. contoh kisah dari jarak tidak hanya ini. Ada dan ada banyak lagi, yang memilih berjarak untuk terpisahkan sementara ataupun selamanya. Namun ada satu hal yang jangan pernah diberi jarak sejauh apapun, yaitu antara kening ini dengan tempat bersujud kita. Jangan pernah. Karena, Dia sendiri yang berjanji pada kita, saat kita jalan menuju-Nya, maka Dia akan berlari, dan saat kita berlari, maka Dia akan sangat berlari. Namun ketika kita menjauh, kita belum tentu akan diberi kesempatan kedua untuk mendekat pada-Nya.

Bukankah, Illah hanya Dia, Allah SWT, Sang Pemberi Jarak, antara keinginan dan usaha, yaitu hasil.


Kisah di atas, campuran kejadian nyata yang berlangsung dengan renungan pribadi selama di kota kembang ini. Semoga dapat saling mengingatkan. Baik, baik-baik saja.

#29HariMenulisCinta

Menyambut yang disambut.

Design by Setyani Nurul Chotimah

Design by Setyani Nurul Chotimah

Belajar konsisten itu berawal dari mengkonsistenkan konsisten itu sendiri. Tidak lagi bergerak acak, diatur dalam sebuah perencanaan.

“Spontan dengan tak teratur itu berbeda, bukan begitu Ka?” sahut si Hati dalam sebuah perenungan semalam.

Yup, berbeda. Spontan itu bagian dari sebuah perecanaan, tetapi tak teratur diluar itu. Di luar dari Diagram Venn” jawab si logika dengan bahasa matematika seperti biasanya.

“Kalau begitu kita sebenarnya dapat akur Ka, kita itu satu tubuh kan, walaupun berbeda cara pandang. Toh, tujuan kita satu, yaitu mencari yang terbaik untuk menjadi baik pada sekililing dan si empunya kita” si Hati pun menyakinkan dengan cara bijak seperti biasanya pula.

Yuk, dimulai nulis satu hari satu tulisan, 1 halaman layar Ms.Word, isinya yang bermanfaat, biar si empunya kita bisa setara dengan si empunya Hati dan Logika yang lain, kawan lamanya. Dia itu kalau sudah menulis selalu bisa tersampaikan niatnya, sampai membuat orang nangis ataupun tertawa terbahak-nahak ” sahut semangat dari si Logika

“Dimulai dari grup Whatsapp ajakan ini yap?” sahutku

“Siap bos!” sahut balik dari kedua sahabatku ini.

[Challenge] Receh Untuk Buku 2016 #1

Akhirnya terisi juga ini web setelah berbulan-bulan memutuskan untuk memakai ritme skripsweet dalam menjalani detik demi detiknya *lebay mode on*.
Challenge atau nama lainnya tantangan (semua orang juga sudah tau jak -.-v) ini ingin dijadikan azzam awal untuk dapat terus menulis apapun itu di web ini. Siapa tau ada yang mau nawarin kopdar bahas tulisan terus ditraktir makan, nasib sudah menjadi pengangguran yang masih takut bekerja di sebuah tekanan.
Receh untuk buku, tantangan sederhana namun berat (menurutku). Tantangan yang saya dapatin dari blog si anak melow, upik.
Yuk ikut yuk, step by stepnya ada di bawah, capcuuus ~
8fb30-7b381625f7bcc3c892251008ddefd84e
1. Kumpulkan semua uang receh yang kamu punya sejak bulan Januari-Desember 2016
2. Setelah akhir tahun, hitung jumlah uang tersebut dan belikan buku yang kamu inginkan/bukunya dihadiahkan ke orang lain
3. Buat postingan tentang challenge ini di blog kamu, share di media sosial yang kamu punya
4. Pasang banner Receh Untuk Buku 2016
Gampang, kaan ! Ikutan yuk! Jangan lupa daftarin blog kamu di lamannya Kak Maya di SINI ^^

Mindsetku dan Mindsetmu (Harus) Sama

photodune-6462742-self-developement-concept-xs

Yap.. Mindset seringkali menjadi pesannya seorang dokter saat bertemu dengan pasien yang sudah putus asa akan penyakit yang dialaminya. Hal ini dikarenakan saat diri ini sakit, sesungguhnya obat yang paling mujarab adalah mindset bahagiamu, pesan seorang dokter yang sering terucap. Karena mindset kita bahagia, maka hormon bahagiamu pun akan meningkat dan berefek pada sistem imun pasien serta menimbulkan rasa optimis untuk menjadi sehat. Kemudian akan berpengaruh pada keinginan pasien untuk berobat ke rumah sakit dengan disiplin.

Demikian sehingga, mindset dapat diibaratkan dengan kacamata. Jika pengguna ingin mengbirukan seluruh yang dilihatnya, cukup dengan menggunakan kacamata biru. Maka saat itu seterang apapun yang dilihat, bagi pengguna semua tetaplah biru. Sistem ini seperti penggunaan kacamata hitam yang digunakan untuk ‘mengubah’ warna matahari untuk tidak menyilaukan mata.

Mindset jika dicari maknanya, bisa diartikan merupakan kata lain dari world view, paradigma pikir, atau pola pikir yang sifatnya tetap, (diciptakan oleh alam sadar manusia dan disimpan di alam bawah sadar) yang kelak akan mempengaruhi kita dalam berfikir maupun bertindak, hingga dapat menentukan hampir dari keseluruhan hidup kita. Mindset berasal dari informasi-informasi yang kita peroleh, hal-hal yang kita lihat dan rasakan, dan hal yang kita lakukan terus-menerus sehingga menjadi kumpulan-kumpulan keyakinan, yang menentukan bagaimana kita akan berpikir. Yang akan mendorong kita untuk mengurungkan atau melakukan sesuatu, menjadi faktor penentu suatu hal, salah satunya penentu ‘siapa kita’ di masa depan kelak.

Ibnu Qayyim pun menyampaikan : “..kita menjadi ‘siapa’ bukanlah karena kejadiannya. Tapi persepsi kitalah yg menunjukkan ‘siapa kita’ ”

Namun seringkali, tanpa disadari kita sering terperangkap kepada pikiran-pikiran keliru yang sulit untuk dibendung dan dikendalikan. Dan pada akhirnya kita menjadi ‘budak’ dari pikiran kita sendiri. Berhati-hati. Terutama di era di mana yang dilihat siapa yang menyampaikan bukan apa yang disampaikan, jaman kemanjaan. Era penuh dengan keabu-abuan yang di mana kewaspadaan pun menjadi atmosfir yang kental saat ini, jika tak ingin salah rumah dan langkah.

Kewaspadaan itu salah satunya terhadap yang bernama Ghazwul Fikri. Kata ini tentu bukanlah barang baru bagi kalangan umat islam, tentunya. Secara sederhana ghazwul fikri dapat diartikan sebagai perang pemikiran atau perang intelektual. Namun ada juga yang menjelaskan sebagai invasi pemikiran, perang ideologi, budaya, perang urat syaraf hingga perang peradaban. Seperti yang tertulis pada surah Al-Baqaroh ayat 217, bahwa umat muslim akan selalu diperangi dengan jalan apapun hingga kata murtad yang mereka inginkan tercapai.

Amunisi penyerangannya mereka di setiap era memiliki cara yang berbeda-beda. Dan pada era 21 ini melalui tulisan, pemikiran ide-ide, argumentasi, dialog, perdebatan. Sehingga mempengaruhi jalan pikiran bangsa atau di sini adalah umat muslim yang diserbunya melalui otoritas media massa yang mereka kuasai dan kita nikmati. Hingga Islamphobia, rendah diri, keragu-raguan merupakan salah satu gejala yang ditimbulkan kepada diri masing-masing umat muslim hingga yang bukan. Apakah kita peka akan hal ini? Dan merawat mindset kita di koridor yang benar dan baik sesuai aturan-Nya. Berikut taktik yang harus diketahui bagaimana mereka melemahkan iman umat muslim:

1. Tasykik, menimbukan keragu-raguan, pendangkalan ilmu kaum muslim dari agamanya. Mereka membuat rasional-rasional baru yang membuat ragu akan ajaranNya yang disampaikan melalui Alquran dan as-Sunnah. Ada yang berkata Alquran tidak layak untuk jaman sekarang, dia ada hanya untuk di jamannya saja, sunnah diserang berupa hanya rekaan saja dari para riwayat hadist dan sahabat Rasulullah. Bahaya lah jika tak paham dan peka.

2. Tasywih, pelecahan atau pencemaran. Visinya berupa usaha untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap islam itu sendiri. Melakukan pencitraan buruk terhadap islam, seperti yang berjenggot lebat di buat berupa mindset adalah aksesoris seorang teroris, dan banyak lagi pelecehan yang membuat rasa rendah diri ini muncul pada kita yang tak kuat iman.

3. Tadhlil, dengan mencapur adukkan pemikiran dan budaya islam dengan budaya dan pemikiran jahiliyah. Sehingga membuat umat muslim bingung dan sulit untuk memisahkan yang mana nilai-nilai islami dan mana yang bukan.

4. Taghrib, westernisasi. Budaya yang dicitrakan lebih maju dibandingkan budaya lain dan memaksa umat muslim untuk mengikuti budayanya yang jauh dari prinsip budaya islam itu sendiri.

Jika membahas sarana, mereka sudah melakukan invansi besar-besaran. Hingga dapat dianalogikan, umat muslim sekarang sedang berada di sebuah akuarium yang menjadi bahan percobaan, bahan tontonan hingga tak bisa apapun. Berikut sarana yang digunakan oleh mereka berupa penguasaan lembaga atau instansi pemerintah, penguasaan media massa, pendidikan diwilayah kurikulum, organisasi sosial, forum-forum dialog, diskusi dan semacamnya. Maka bukan lagi saatnya diam menikmati, namun lawan walau dengan alat mereka pula hingga Allah menghadirkan takdirNya di akhir zaman nanti.

Upaya yang ekstra pun harus dimiliki, agar tidak terjebak dalam rekayasa-rekayasa mereka. Banyak tantangan yang akan dihadapi, oleh karena itu penting bagi kita untuk membekali diri dengan ilmu agama yang menjadi payung saat kita mempelajari ilmu dunia, iman kepadaNya yang mengakar kuat dalam bentuk akhlak, peningkatan wawasan dan keahlian bidang hingga keterampilan jurnalistik, jika kita ingin memainkan peran prajurit di wilayah media massa.

Serta jangan lupa untuk selalu berada dalam keadaan ‘kerendah-hatian’ bahwa Mahasuci Allah lah yang telah menciptakan semuanya, tidak ada yang manusia ketahui selain yang Allah SWT ajarkan kepada kami. Maka dengan begitu akan membuat kita untuk selalu berserah diri sehingga menuntun kita berpikir terbuka, tanpa prasangka yang mendominasi, dan menjadikan kita lebih logis. Serta selalu dapat mengantisipasi kekeliruan dalam bertindak, selalu check dan recheck, tabayun dalam setiap menerima informasi. Yang kelak jika dilatih terus menerus maka akan tertanam kuat dan menjadi mindset yang rapih di alam sadar dan akhlak kita semua. Bertahanlah hingga masa dimana Allah SWT mengijinkan dunia ini kembali menjadi tanah.

Sumber:
http://abinasyifa.blogspot.com/2011/12/persoalan-umat.html. Diakses pada tanggal 24 Juni 2015 pukul 08.51 WIB.
Gambar

Life Is Choice

choices

SEJAK AWAL, manusia itu merupakan makhluk yang paling ababil di antara makhluk hidup yang ada. Kata ababil sendiri merupakan dari singkatan ABG labil yang jika dicari di KBBI – Kamus Besar Bahasa Indonesia – akan didapatkan arti labil /la·bil/ adalah 1 goyah; tidak mantap; tidak kokoh (tt bangunan, pendirian, dsb).

Nah?! Kenapa makhluk yang paling labil?? Let’s check this reality: pernah gak temen-temen masuk ke sebuah toko buku dan tujuan ke sana hanya ingin membeli buku A, namun ternyata di akhir pembelian buku A akan menjadi beberapa buku yang lain + ATK-ATK lainnya. Atau ketika di akhir semester melihat nilai IP yang tidak sesuai target, lalu teman-teman seketika ber’janji’ akan serius kuliah, tugas-tugas tidak dikerjakan ketika hari H pengumpulan dan tidak akan “ketiduran” dalam kelas. Namun di tengah perjalanan kuliah, semua hal itu hilang seketika dan di akhir semester itu pun teman-teman akan menyesal dan ber’janji’ (lagi).

Yaa itulah manusia makhluk paling ababil, makhluk yang diciptakan bukan seperti robot yang bekerja sesuai input perintahnya. Karena pada dasarnya kita memiliki perasaan yang bekerja sama dengan otak kita. Inilah yang merupakan hal special yang diberikan-Nya pada kita, kita bisa bergerak sesuai keinginan dan kemauan kita sendiri.

Namun dibalik semua hal itu, perlu kita ingat bahwa orang yang bebas dan tidak terikat oleh sebuah aturan, seperti layaknya seekor rusa yang tidak ikut dengan rombongannya dan siap menjadi santapan seekor singa bersama rombongannya. Jadi, seharusnya yang mengatur kehidupan kita bukanlah perasaan, namun kitalah yang mengatur perasaan untuk kehidupan kita.

Life is choice, to be good or to be bad. Tidak pernah ada namanya menjadi netral dalam hidup ini karena akhir dalam perjalanan kita hanya 2 pilihan memasuki surga atau menemani iblis di neraka. Terkadang kita suka mencari berbagai alasan untuk melindungi “ kemauan “ kita agar bisa kita ‘anggap’ bahwa ini baik –menurut kita- .

Seperti ketika mencontek ketika ujian, “Ya ini baik untuk mendapatkan nilai dan membanggakan orang tua” atau ketika orang lagi cinta monyet, “Ya ini kan proses menuju pernikahan, harus saling kenal lebih dalam bukannya nikah sebagian dari iman”.

Ini salah satu dari berbagai fenomena yang membuktikan kita sebagai manusia suka mencari alasan dan tidak mau jujur mengatakan hal yang kita lakukan itu salah karena pada dasarnya hati itu tidak pernah berbohong namun setan-lah yang menghembuskan angin kebohongan itu.

Ketika kita SD hingga SMA diajarkan bertata krama sopan dan beragama yang taat –pelajaran PKN dan Agama- namun ilmu itu hilang seketika nafsu atau perasaan keinginan kita lebih besar, kalau begitu lebih baik kita tidak usah sekolah dan tidak membuang-buang harapan dan uang orang tua kita. Ya itulah manusia, sok beralasan “ini kan manusiawi, tempatnya salah dan khilaf” – nah, kalau salah mulu kapan baiknya, apa ketika sudah tua yang notabene akan ingat mati, telat banget bro -.

Life is choice, mau menumpuk dosa atau pahala ketika hidup ini, mau menumpuk prestasi atau kemalasan ketika hidup ini, mau sukses atau gagal ketika hidup ini, mau tidur sedikit atau tidur banyak ketika hidup ini, mau berguna atau digunakan.

Semua penuh pilihan, dan setiap pilihan perlu ada pengorbanan. Kalau mau ingin menjadi pilihan yang baik, maka waktu, tenaga hingga perasaan perlu di korbankan. Entah nanti akan di’julukin’ sok pintar, sok cerdas ataupun sok alim, inilah pengorbanan – dengan syarat kita harus jauh akan sifat riya’ -. Atau mau menjadi pilihan yang tidak baik, hidup bahagia, senang dan mengikuti perasaan atau kemauan kita namun yang dikorbankan nantinya adalah masa hidup kekal di akhirat nanti.

Karena sebenarnya menjadi baik adalah sebuah kepastian dan menjadi tidak baik adalah sebuah pilihan. So, di akhir tulisan ini penulis ingin menyampaikan bahwa cap ababil pada manusia sebenarnya merupakan kebohongan hati kita sendiri akan suatu hal kebenaran yang sudah pasti cara mendapatkannya dan apa yang akan didapatkannya. Now, what is your choice? 😀

Sumber gambar: image

Pages:1234