siejak

Berkarya Untuk Sang Maha Karya

Mindsetku dan Mindsetmu (Harus) Sama

photodune-6462742-self-developement-concept-xs

Yap.. Mindset seringkali menjadi pesannya seorang dokter saat bertemu dengan pasien yang sudah putus asa akan penyakit yang dialaminya. Hal ini dikarenakan saat diri ini sakit, sesungguhnya obat yang paling mujarab adalah mindset bahagiamu, pesan seorang dokter yang sering terucap. Karena mindset kita bahagia, maka hormon bahagiamu pun akan meningkat dan berefek pada sistem imun pasien serta menimbulkan rasa optimis untuk menjadi sehat. Kemudian akan berpengaruh pada keinginan pasien untuk berobat ke rumah sakit dengan disiplin.

Demikian sehingga, mindset dapat diibaratkan dengan kacamata. Jika pengguna ingin mengbirukan seluruh yang dilihatnya, cukup dengan menggunakan kacamata biru. Maka saat itu seterang apapun yang dilihat, bagi pengguna semua tetaplah biru. Sistem ini seperti penggunaan kacamata hitam yang digunakan untuk ‘mengubah’ warna matahari untuk tidak menyilaukan mata.

Mindset jika dicari maknanya, bisa diartikan merupakan kata lain dari world view, paradigma pikir, atau pola pikir yang sifatnya tetap, (diciptakan oleh alam sadar manusia dan disimpan di alam bawah sadar) yang kelak akan mempengaruhi kita dalam berfikir maupun bertindak, hingga dapat menentukan hampir dari keseluruhan hidup kita. Mindset berasal dari informasi-informasi yang kita peroleh, hal-hal yang kita lihat dan rasakan, dan hal yang kita lakukan terus-menerus sehingga menjadi kumpulan-kumpulan keyakinan, yang menentukan bagaimana kita akan berpikir. Yang akan mendorong kita untuk mengurungkan atau melakukan sesuatu, menjadi faktor penentu suatu hal, salah satunya penentu ‘siapa kita’ di masa depan kelak.

Ibnu Qayyim pun menyampaikan : “..kita menjadi ‘siapa’ bukanlah karena kejadiannya. Tapi persepsi kitalah yg menunjukkan ‘siapa kita’ ”

Namun seringkali, tanpa disadari kita sering terperangkap kepada pikiran-pikiran keliru yang sulit untuk dibendung dan dikendalikan. Dan pada akhirnya kita menjadi ‘budak’ dari pikiran kita sendiri. Berhati-hati. Terutama di era di mana yang dilihat siapa yang menyampaikan bukan apa yang disampaikan, jaman kemanjaan. Era penuh dengan keabu-abuan yang di mana kewaspadaan pun menjadi atmosfir yang kental saat ini, jika tak ingin salah rumah dan langkah.

Kewaspadaan itu salah satunya terhadap yang bernama Ghazwul Fikri. Kata ini tentu bukanlah barang baru bagi kalangan umat islam, tentunya. Secara sederhana ghazwul fikri dapat diartikan sebagai perang pemikiran atau perang intelektual. Namun ada juga yang menjelaskan sebagai invasi pemikiran, perang ideologi, budaya, perang urat syaraf hingga perang peradaban. Seperti yang tertulis pada surah Al-Baqaroh ayat 217, bahwa umat muslim akan selalu diperangi dengan jalan apapun hingga kata murtad yang mereka inginkan tercapai.

Amunisi penyerangannya mereka di setiap era memiliki cara yang berbeda-beda. Dan pada era 21 ini melalui tulisan, pemikiran ide-ide, argumentasi, dialog, perdebatan. Sehingga mempengaruhi jalan pikiran bangsa atau di sini adalah umat muslim yang diserbunya melalui otoritas media massa yang mereka kuasai dan kita nikmati. Hingga Islamphobia, rendah diri, keragu-raguan merupakan salah satu gejala yang ditimbulkan kepada diri masing-masing umat muslim hingga yang bukan. Apakah kita peka akan hal ini? Dan merawat mindset kita di koridor yang benar dan baik sesuai aturan-Nya. Berikut taktik yang harus diketahui bagaimana mereka melemahkan iman umat muslim:

1. Tasykik, menimbukan keragu-raguan, pendangkalan ilmu kaum muslim dari agamanya. Mereka membuat rasional-rasional baru yang membuat ragu akan ajaranNya yang disampaikan melalui Alquran dan as-Sunnah. Ada yang berkata Alquran tidak layak untuk jaman sekarang, dia ada hanya untuk di jamannya saja, sunnah diserang berupa hanya rekaan saja dari para riwayat hadist dan sahabat Rasulullah. Bahaya lah jika tak paham dan peka.

2. Tasywih, pelecahan atau pencemaran. Visinya berupa usaha untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap islam itu sendiri. Melakukan pencitraan buruk terhadap islam, seperti yang berjenggot lebat di buat berupa mindset adalah aksesoris seorang teroris, dan banyak lagi pelecehan yang membuat rasa rendah diri ini muncul pada kita yang tak kuat iman.

3. Tadhlil, dengan mencapur adukkan pemikiran dan budaya islam dengan budaya dan pemikiran jahiliyah. Sehingga membuat umat muslim bingung dan sulit untuk memisahkan yang mana nilai-nilai islami dan mana yang bukan.

4. Taghrib, westernisasi. Budaya yang dicitrakan lebih maju dibandingkan budaya lain dan memaksa umat muslim untuk mengikuti budayanya yang jauh dari prinsip budaya islam itu sendiri.

Jika membahas sarana, mereka sudah melakukan invansi besar-besaran. Hingga dapat dianalogikan, umat muslim sekarang sedang berada di sebuah akuarium yang menjadi bahan percobaan, bahan tontonan hingga tak bisa apapun. Berikut sarana yang digunakan oleh mereka berupa penguasaan lembaga atau instansi pemerintah, penguasaan media massa, pendidikan diwilayah kurikulum, organisasi sosial, forum-forum dialog, diskusi dan semacamnya. Maka bukan lagi saatnya diam menikmati, namun lawan walau dengan alat mereka pula hingga Allah menghadirkan takdirNya di akhir zaman nanti.

Upaya yang ekstra pun harus dimiliki, agar tidak terjebak dalam rekayasa-rekayasa mereka. Banyak tantangan yang akan dihadapi, oleh karena itu penting bagi kita untuk membekali diri dengan ilmu agama yang menjadi payung saat kita mempelajari ilmu dunia, iman kepadaNya yang mengakar kuat dalam bentuk akhlak, peningkatan wawasan dan keahlian bidang hingga keterampilan jurnalistik, jika kita ingin memainkan peran prajurit di wilayah media massa.

Serta jangan lupa untuk selalu berada dalam keadaan ‘kerendah-hatian’ bahwa Mahasuci Allah lah yang telah menciptakan semuanya, tidak ada yang manusia ketahui selain yang Allah SWT ajarkan kepada kami. Maka dengan begitu akan membuat kita untuk selalu berserah diri sehingga menuntun kita berpikir terbuka, tanpa prasangka yang mendominasi, dan menjadikan kita lebih logis. Serta selalu dapat mengantisipasi kekeliruan dalam bertindak, selalu check dan recheck, tabayun dalam setiap menerima informasi. Yang kelak jika dilatih terus menerus maka akan tertanam kuat dan menjadi mindset yang rapih di alam sadar dan akhlak kita semua. Bertahanlah hingga masa dimana Allah SWT mengijinkan dunia ini kembali menjadi tanah.

Sumber:
http://abinasyifa.blogspot.com/2011/12/persoalan-umat.html. Diakses pada tanggal 24 Juni 2015 pukul 08.51 WIB.
Gambar

Life Is Choice

choices

SEJAK AWAL, manusia itu merupakan makhluk yang paling ababil di antara makhluk hidup yang ada. Kata ababil sendiri merupakan dari singkatan ABG labil yang jika dicari di KBBI – Kamus Besar Bahasa Indonesia – akan didapatkan arti labil /la·bil/ adalah 1 goyah; tidak mantap; tidak kokoh (tt bangunan, pendirian, dsb).

Nah?! Kenapa makhluk yang paling labil?? Let’s check this reality: pernah gak temen-temen masuk ke sebuah toko buku dan tujuan ke sana hanya ingin membeli buku A, namun ternyata di akhir pembelian buku A akan menjadi beberapa buku yang lain + ATK-ATK lainnya. Atau ketika di akhir semester melihat nilai IP yang tidak sesuai target, lalu teman-teman seketika ber’janji’ akan serius kuliah, tugas-tugas tidak dikerjakan ketika hari H pengumpulan dan tidak akan “ketiduran” dalam kelas. Namun di tengah perjalanan kuliah, semua hal itu hilang seketika dan di akhir semester itu pun teman-teman akan menyesal dan ber’janji’ (lagi).

Yaa itulah manusia makhluk paling ababil, makhluk yang diciptakan bukan seperti robot yang bekerja sesuai input perintahnya. Karena pada dasarnya kita memiliki perasaan yang bekerja sama dengan otak kita. Inilah yang merupakan hal special yang diberikan-Nya pada kita, kita bisa bergerak sesuai keinginan dan kemauan kita sendiri.

Namun dibalik semua hal itu, perlu kita ingat bahwa orang yang bebas dan tidak terikat oleh sebuah aturan, seperti layaknya seekor rusa yang tidak ikut dengan rombongannya dan siap menjadi santapan seekor singa bersama rombongannya. Jadi, seharusnya yang mengatur kehidupan kita bukanlah perasaan, namun kitalah yang mengatur perasaan untuk kehidupan kita.

Life is choice, to be good or to be bad. Tidak pernah ada namanya menjadi netral dalam hidup ini karena akhir dalam perjalanan kita hanya 2 pilihan memasuki surga atau menemani iblis di neraka. Terkadang kita suka mencari berbagai alasan untuk melindungi “ kemauan “ kita agar bisa kita ‘anggap’ bahwa ini baik –menurut kita- .

Seperti ketika mencontek ketika ujian, “Ya ini baik untuk mendapatkan nilai dan membanggakan orang tua” atau ketika orang lagi cinta monyet, “Ya ini kan proses menuju pernikahan, harus saling kenal lebih dalam bukannya nikah sebagian dari iman”.

Ini salah satu dari berbagai fenomena yang membuktikan kita sebagai manusia suka mencari alasan dan tidak mau jujur mengatakan hal yang kita lakukan itu salah karena pada dasarnya hati itu tidak pernah berbohong namun setan-lah yang menghembuskan angin kebohongan itu.

Ketika kita SD hingga SMA diajarkan bertata krama sopan dan beragama yang taat –pelajaran PKN dan Agama- namun ilmu itu hilang seketika nafsu atau perasaan keinginan kita lebih besar, kalau begitu lebih baik kita tidak usah sekolah dan tidak membuang-buang harapan dan uang orang tua kita. Ya itulah manusia, sok beralasan “ini kan manusiawi, tempatnya salah dan khilaf” – nah, kalau salah mulu kapan baiknya, apa ketika sudah tua yang notabene akan ingat mati, telat banget bro -.

Life is choice, mau menumpuk dosa atau pahala ketika hidup ini, mau menumpuk prestasi atau kemalasan ketika hidup ini, mau sukses atau gagal ketika hidup ini, mau tidur sedikit atau tidur banyak ketika hidup ini, mau berguna atau digunakan.

Semua penuh pilihan, dan setiap pilihan perlu ada pengorbanan. Kalau mau ingin menjadi pilihan yang baik, maka waktu, tenaga hingga perasaan perlu di korbankan. Entah nanti akan di’julukin’ sok pintar, sok cerdas ataupun sok alim, inilah pengorbanan – dengan syarat kita harus jauh akan sifat riya’ -. Atau mau menjadi pilihan yang tidak baik, hidup bahagia, senang dan mengikuti perasaan atau kemauan kita namun yang dikorbankan nantinya adalah masa hidup kekal di akhirat nanti.

Karena sebenarnya menjadi baik adalah sebuah kepastian dan menjadi tidak baik adalah sebuah pilihan. So, di akhir tulisan ini penulis ingin menyampaikan bahwa cap ababil pada manusia sebenarnya merupakan kebohongan hati kita sendiri akan suatu hal kebenaran yang sudah pasti cara mendapatkannya dan apa yang akan didapatkannya. Now, what is your choice? 😀

Sumber gambar: image

Tabayyun Dalam Internet

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.  [Q.S Al-Hujurat: 6]

Asal Muasal

Kejujuran adalah kewajiban dan hak dari setiap manusia yang lahir di dunia ini. Allah SWT pun menyampaikannya melalui salah satu ayat di kitab suci Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 6. Sebuah peristiwa berita bohong pada zaman Rasulullah SAW yang menjadi sebab Allah SWT menasehati kita semua.

Seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musthaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad. Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musthaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya. Tiba-tiba datanglah utusan (Bani Al-Musthaliq) seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Kami mendapat berita bahwa utusanmu pulang di tengah perjalanan, sedangkan kami khawatir dia pulang karena menerima surat dari Anda, lalu baginda marah kepada kami, sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari kemarahan-Nya dan kemarahan utusan-Nya.” [HR Ahmad, al Musnad (4/279)].

Inilah yang masih terjadi pada saat zaman Rasulullah hidup, yang dapat dipastikan kejujuran dan kebaikan sangat kental dirasakan umat zaman itu dengan intensitas tindak kriminalitas sangatlah sedikit terjadi.

Zaman Generasi Pembaca Judul

Lantas bagaimana dengan zaman sekarang, generasi abad 21 yang semakin sukar mencari sosok yang jujur dan senantiasa beri’tikad baik dalam setiap berita dan informasi yang disampaikan. Sebuah informasi memiliki peran yang sangat besar pada masyarakat, karena media massa di era zero gap antar manusia ini memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mempengaruhi perubahan budaya, norma dan etika, terlebih karakteristik generasi abad 21 ini lebih memiliki jiwa konsumtif dengan fasilitas memanjakan yang ada pada abad ini.

Oleh karena adanya perkembangan teknologi informasi (dunia maya) yang sangat cepat, hasil kerja jurnalistik telah memasuki ruang yang begitu dekat dengan kehidupan manusia. Manusia tidak akan merasa kesulitan lagi untuk mendapatkan informasi, hingga manusia yang bukan siapa-siapa bisa menjadi terkenal hanya karena faktor teknologi dunia maya yang tidak bisa kita verifikasi keaslian informasi itu. Inilah zaman dimana kita hidup, yang perintah tabayyun – mencari kejelasan tentang sesuatu informasi hingga jelas benar keadaannya – sudah jarang dilakukan oleh umat Islam ketika mendapatkan informasi, yang sering disebut generasi pembaca judul. Sebuah permasalahan umat, atau bisa disebut Ghazwul Fikr kekinian.

Solusi Bagi Warga Dunia Maya

Dalam menyusuri dunia maya ada beberapa panduan untuk mencari kebenaran informasi (tabayyun), diantaranya:

1. Kritis terhadap suatu konten media.

Konten di dunia maya seperti artikel, gambar, rekaman, maupun video harus didasarkan pada penerbit konten yang terverifikasi. Penerbit konten merupakan suatu pihak yang menyajikan konten. Kredibilitas suatu konten harus ditentukan berdasarkan dua sisi, yaitu sisi penerbit konten dan isi konten. Pengujian kredibilitas tidak boleh dilakukan hanya pada salah satu sisi, karena belum tentu ketika satu sisi terbukti kredibel, maka sisi yang lain pasti kredibel.

Verifikasi konten dari sisi penerbit dapat dilakukan dengan cara yang beragam, seperti melihat sejarah dari penerbit, konsistensi isi atau tema konten yang di pos penerbit, dan komentar netizen terhadap isi konten. Sejarah penerbit biasanya mendefinisikan visi dan misi dari penerbit tersebut, apakah penerbit tersebut bermaksud untuk membuat konten yang kredibel, untuk bahan bercandaan, atau untuk propaganda. Konsistensi isi atau tema konten yang di pos juga perlu diperhatikan, karena ketika isi konten keluar dari tema penerbit, kredibilitasnya dapat dipertanyakan.

Melalui sisi isi konten, verifikasi dapat dilakukan dengan mengkaji konten dengan pertanyaan 5W dan 1H (What, Who, Where, When, Why, dan How) serta mengklarifikasi konten dari penerbit yang berbeda. Pertanyaan 5W dan 1H harus dapat terjawab serta memang benar adanya. Ketika konten antar penerbit sama persis dimungkinkan adanya satu sumber yang sama, sedangkan ketika konten tersebut bertentangan dimungkinkan sudut pandangnya berbeda atau mungkin salah satu diantaranya adalah palsu.

2. Curigai konten media yang memiliki indikasi hoax

Hoax adalah artikel atau konten palsu yang berusaha untuk meyakinkan pembaca dan menjadikannya sebagai sebuah kebenaran. Hoax sendiri sudah lama beredar, bahkan sebelum dunia maya ada. Berikut ciri-ciri konten yang disinyalir berupa hoax: (1) umumnya konten terlalu berlebihan, terlalu baik atau mengerikan untuk jadi nyata; (2) tidak adanya jawaban dari pertanyaan 5W dan 1H yang jelas; (3) terdapat ajakan untuk membagikan konten demi maksud yang baik; (4) informasi dalam konten bertentangan dengan kenyataan.

Untuk mengetahui mana konten hoax dari sekian banyak konten yang kita lihat di dunia maya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, diantaranya: (1) lakukan searching pada mesin pencari terkait kebenaran konten. Umumnya konten hoax banyak tersebar di dunia maya namun tulisan di penerbit cenderung sama persis (copy-paste belaka); (2) akses beragam laman yang umumnya mengupas kebenaran suatu hoax. Salah satu laman tersebut adalah Snopes[1] dan IndonesianHoaxes[2]; (3) periksa kebenaran informasi dari pertanyaan 5W + 1H dalam konten tersebut; (4) jika konten yang disinyalir hoax berupa gambar, lakukan image forensics. Image forensics adalah metode analisis gambar berdasarkan data tertanam pada gambar. Sudah ada beberapa laman menawarkan jasa image forensics seperti Imageforensics.org dan Fotoforensics.com.

books-resave-300x225(a)

books-edited-300x225(b)

books-resave-ela-300x225(c)

books-edited-ela-300x225(d)

Citra berwarna (a,b) dan Citra hasil ELA (c,d). Terlihat bahwa pada citra (b,d) terdapat modifikasi gambar berupa buku-buku dan mainan dinosaurus.

Gunakan Pemikiran Islam Sebagai Landasan Berpikir.

Islam sebagai ajaran agama yang rahmatan lil alamin tidak hanya mengajarkan tentang ibadah spiritual saja. Islam mengajarkan bagaimana sebuah ilmu dapat diyakini menjadi pemahaman melalui proses berpikir yang mendalam dan logis. Maka jadilah generasi cerdas dan kritis dalam mengolah informasi, karena kejujuran adalah harga yang mahal di masa ini dan persatuan umat islam bermula dari sini.

[1] http://snopes.com/

[2] http://blog.indonesianhoaxes.com

nb: Terima kasih pada Luthfi Zharif yang telah menulis artikel ini bersama-sama. Untuk melihat tulisan-tulisan sarat makna dari Luthfi Zharif silakan lihat di website beliau : http://zharfi.xyz/islam/tabayyun-dalam-internet/

sumber gambar: image