siejak

Berkarya Untuk Sang Maha Karya

Menyambut yang disambut.

Design by Setyani Nurul Chotimah

Design by Setyani Nurul Chotimah

Belajar konsisten itu berawal dari mengkonsistenkan konsisten itu sendiri. Tidak lagi bergerak acak, diatur dalam sebuah perencanaan.

“Spontan dengan tak teratur itu berbeda, bukan begitu Ka?” sahut si Hati dalam sebuah perenungan semalam.

Yup, berbeda. Spontan itu bagian dari sebuah perecanaan, tetapi tak teratur diluar itu. Di luar dari Diagram Venn” jawab si logika dengan bahasa matematika seperti biasanya.

“Kalau begitu kita sebenarnya dapat akur Ka, kita itu satu tubuh kan, walaupun berbeda cara pandang. Toh, tujuan kita satu, yaitu mencari yang terbaik untuk menjadi baik pada sekililing dan si empunya kita” si Hati pun menyakinkan dengan cara bijak seperti biasanya pula.

Yuk, dimulai nulis satu hari satu tulisan, 1 halaman layar Ms.Word, isinya yang bermanfaat, biar si empunya kita bisa setara dengan si empunya Hati dan Logika yang lain, kawan lamanya. Dia itu kalau sudah menulis selalu bisa tersampaikan niatnya, sampai membuat orang nangis ataupun tertawa terbahak-nahak ” sahut semangat dari si Logika

“Dimulai dari grup Whatsapp ajakan ini yap?” sahutku

“Siap bos!” sahut balik dari kedua sahabatku ini.

#Cermin – Toa Masjid Tua

Pukul 8 malam, tak ada angin tak ada hujan. Toa masjid sebelah berbunyi di waktu yang tak sewajarnya. Para gerombolan mahasiswa yang sedang bermain PES di rumah yang terletak disebelah masjid pun segera mengecilkan volume TV yang digunakan.

“Hei bro, lu dengar gak sih tuh toa bicara apa?

“Oh, biasa bro, pengumuman lelayu. Tuh tadi di awali dengan kata innalillahiwainnalillahirojiun

“Merinding gue bro”

“Nape lu merinding, tuh mah biasa dikawasan sini”

“Gue merinding, mungkin saja itu cara terakhir kalinya nama gue dipanggil. Selanjutnya hanya berkenang di kenangan orang-orang yang masih hidup, entah itu baik dan buruk.”


Sebuah pertanyaan sederhana yang tak mungkin kita bisa menjawabnya, bukan karena susah namun kita kehabisan waktu untuk dapat menjawabnya..

Apakah yang dirasakan oleh kita, saat nama kita yang diucapkan dalam berita lelayu itu? Bahagia? Sedih? Entahlah.

*tulisan cerita mini yang berhasil diselesaikan di grup WA FLP*
sumber gambar: image