siejak

Berkarya Untuk Sang Maha Karya

Re- tulisan #2

Kenapa tidak memilih ‘menjadi’?

Kali ini, saya mencoba menjadi parapikiran, alias orang yang (sok) bisa membaca pikiran orang lain. Sebuah obrolan yang mungkin saja selalu terlintas dalam pikiran seorang adam dan hawa. Yaa.. minimal menurut saya, toh ini hidup-hidup saya :p

“Susah mencari wanita solehah di jaman sekarang ini.” – sosok adam

“Susah mencari lelaki soleh di jaman sekarang ini.” – sosok hawa

Sebuah klise sederhana yang mungkin ini tabiat dari sosok manusia. Ia suka mencari bukan membuktikan diri, ia suka diberi bukan memberi.

Bukankah lebih baik kata mencari diatas diubah kata menjadi, dan di balik yang menyatakannya?

Seperti ini:

“Susah menjadi wanita solehah di jaman sekarang ini.” – sosok hawa

“Susah menjadi lelaki soleh di jaman sekarang ini.” – sosok adam

Karena, saat itu kita bisa belajar memaknai kata untuk saling memperbaiki, bukan?

-eror pagi hari :p-

Tulisan yang satu ini, jadi bikin ketawa sendiri. Entah saat pembagian otak yang isinya belajar bahasa saat di alam ruh, itu saja tidak datang, atau emang sayanya yang aneh. Coba aja dilihat, saya memakai kata parapikiran, apaan itu -,-. Di masing-masing otak yang baca aja tidak terdeteksi apalagi di KBBI. Ya Rabb, cupunya saja dulu.

Tetapi kalau kata orang itu, jangan pernah kecewa. Apa yang dilakukan hari ini, maka akan menjadi diri kita yang lebih baik kedepan. Belajar walaupun lambat, jelas dengan sangat jelas ia sampaikan saat itu.

Yaa.. seperti isi yang ingin saya sampaikan di tulisan dulu. Kenapa tidak memilih jalan memperbaiki daripada membaiki orang hingga menjadi minder, kun fayakun kalau kata Allah yang ia yakinkan kembali pada usahaku untuk berjuang.

Related Post

Post a comment