siejak

Berkarya Untuk Sang Maha Karya

#2 Kosakata Menikah

R: Mau nanya boleh?

A: Iya, silahkan saja.

R: Menurutmu menikah itu apa? *ceritanya si A akan menikah*

A: Menikah itu membangun peradaban #tsaah

R: Udah sesingkat itu?

A: Hahah, tetapi kan membangun peradaban emang ga sesingakat itu R.

Ya, ini percakapan saya (R) dengan sahabat yang akan menikah beberapa bulan kedepan, mohon doanya dilancarkan dan dijodohkan, sejujurnya saya tidak kaget dengan informasi ini. Praduga mengenai ini udah lama muncul, namun entah kenapa saya tetap saja kesal ketika baru saja tau kenyataan informasi ini. Mungkin cemburu.

#eits

Cemburunya bukan karena dia menikah dengan laki-laki itu yaa, dia udh saya anggap sahabat hingga kakak, tak akan pernah lebih haha. Saya cemburu dengan usaha laki-laki itu, usaha yang membuahkan hasil. Mungkin –pasti sih- laki-laki itu usahanya tak mudah, mulai menyakinkan diri, orang tuanya, orangtua si A hingga si A. Dan saya cemburu, usaha saya mungkin masih belum besar, hingga doa-doa itu belum bertemu dengan si empunya.

Kalau kata si A ketika saya bercerita panjang lebar soal topik ini, dia bilang ” Menikah pada waktu yang tepat, nunggu ga papa, kan nunggu yang halal, saat berbuka insyaAllah kerasa nikmatnya, seperti puasa ”

” Menikah itu yang sekufu, yang sama visi misinya ” lanjut di salah satu cerita dia siang ini.

” Iman ga diliat dari hapalan quran, hadits dan bahasa arab, iman itu di hati. Ada kok orang yang hapalannya ga seberapa, bahasa arabnya boro2, tapi selalu ada Allah di hatinya, jadi urusannya kayak dihandle sama Allah gitu, dan dikasihnya (calon pendamping) juga ga main2 ” usaha dia lagi untuk memberi pandangan lain mengenai sekufu ini dari pikiranku.

Kalau boleh jujur.. saya minder.

Kalau boleh jujur.. saya masih ingin berjuang.

Kalalu boleh jujur.. saya benar-benar menggantungkan pada Allah. Di balik was-was akan kehilangan.

Boleh mabuk, karena cinta.

Boleh cinta, karena Allah.

Sekian. Semoga pengingat pribadi lagi, dan yang membaca bisa memperkuat. Ini ujian iman, ujian percaya dengan kenyataan, alias takdir (qada dan qadar).

jelek, lucu.

Related Post

Post a comment