siejak

Berkarya Untuk Sang Maha Karya

#Cermin – Toa Masjid Tua

Pukul 8 malam, tak ada angin tak ada hujan. Toa masjid sebelah berbunyi di waktu yang tak sewajarnya. Para gerombolan mahasiswa yang sedang bermain PES di rumah yang terletak disebelah masjid pun segera mengecilkan volume TV yang digunakan.

“Hei bro, lu dengar gak sih tuh toa bicara apa?

“Oh, biasa bro, pengumuman lelayu. Tuh tadi di awali dengan kata innalillahiwainnalillahirojiun

“Merinding gue bro”

“Nape lu merinding, tuh mah biasa dikawasan sini”

“Gue merinding, mungkin saja itu cara terakhir kalinya nama gue dipanggil. Selanjutnya hanya berkenang di kenangan orang-orang yang masih hidup, entah itu baik dan buruk.”


Sebuah pertanyaan sederhana yang tak mungkin kita bisa menjawabnya, bukan karena susah namun kita kehabisan waktu untuk dapat menjawabnya..

Apakah yang dirasakan oleh kita, saat nama kita yang diucapkan dalam berita lelayu itu? Bahagia? Sedih? Entahlah.

*tulisan cerita mini yang berhasil diselesaikan di grup WA FLP*
sumber gambar: image

Post a comment