siejak

Berkarya Untuk Sang Maha Karya

Tabayyun Dalam Internet

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.  [Q.S Al-Hujurat: 6]

Asal Muasal

Kejujuran adalah kewajiban dan hak dari setiap manusia yang lahir di dunia ini. Allah SWT pun menyampaikannya melalui salah satu ayat di kitab suci Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 6. Sebuah peristiwa berita bohong pada zaman Rasulullah SAW yang menjadi sebab Allah SWT menasehati kita semua.

Seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musthaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad. Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musthaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya. Tiba-tiba datanglah utusan (Bani Al-Musthaliq) seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Kami mendapat berita bahwa utusanmu pulang di tengah perjalanan, sedangkan kami khawatir dia pulang karena menerima surat dari Anda, lalu baginda marah kepada kami, sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari kemarahan-Nya dan kemarahan utusan-Nya.” [HR Ahmad, al Musnad (4/279)].

Inilah yang masih terjadi pada saat zaman Rasulullah hidup, yang dapat dipastikan kejujuran dan kebaikan sangat kental dirasakan umat zaman itu dengan intensitas tindak kriminalitas sangatlah sedikit terjadi.

Zaman Generasi Pembaca Judul

Lantas bagaimana dengan zaman sekarang, generasi abad 21 yang semakin sukar mencari sosok yang jujur dan senantiasa beri’tikad baik dalam setiap berita dan informasi yang disampaikan. Sebuah informasi memiliki peran yang sangat besar pada masyarakat, karena media massa di era zero gap antar manusia ini memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mempengaruhi perubahan budaya, norma dan etika, terlebih karakteristik generasi abad 21 ini lebih memiliki jiwa konsumtif dengan fasilitas memanjakan yang ada pada abad ini.

Oleh karena adanya perkembangan teknologi informasi (dunia maya) yang sangat cepat, hasil kerja jurnalistik telah memasuki ruang yang begitu dekat dengan kehidupan manusia. Manusia tidak akan merasa kesulitan lagi untuk mendapatkan informasi, hingga manusia yang bukan siapa-siapa bisa menjadi terkenal hanya karena faktor teknologi dunia maya yang tidak bisa kita verifikasi keaslian informasi itu. Inilah zaman dimana kita hidup, yang perintah tabayyun – mencari kejelasan tentang sesuatu informasi hingga jelas benar keadaannya – sudah jarang dilakukan oleh umat Islam ketika mendapatkan informasi, yang sering disebut generasi pembaca judul. Sebuah permasalahan umat, atau bisa disebut Ghazwul Fikr kekinian.

Solusi Bagi Warga Dunia Maya

Dalam menyusuri dunia maya ada beberapa panduan untuk mencari kebenaran informasi (tabayyun), diantaranya:

1. Kritis terhadap suatu konten media.

Konten di dunia maya seperti artikel, gambar, rekaman, maupun video harus didasarkan pada penerbit konten yang terverifikasi. Penerbit konten merupakan suatu pihak yang menyajikan konten. Kredibilitas suatu konten harus ditentukan berdasarkan dua sisi, yaitu sisi penerbit konten dan isi konten. Pengujian kredibilitas tidak boleh dilakukan hanya pada salah satu sisi, karena belum tentu ketika satu sisi terbukti kredibel, maka sisi yang lain pasti kredibel.

Verifikasi konten dari sisi penerbit dapat dilakukan dengan cara yang beragam, seperti melihat sejarah dari penerbit, konsistensi isi atau tema konten yang di pos penerbit, dan komentar netizen terhadap isi konten. Sejarah penerbit biasanya mendefinisikan visi dan misi dari penerbit tersebut, apakah penerbit tersebut bermaksud untuk membuat konten yang kredibel, untuk bahan bercandaan, atau untuk propaganda. Konsistensi isi atau tema konten yang di pos juga perlu diperhatikan, karena ketika isi konten keluar dari tema penerbit, kredibilitasnya dapat dipertanyakan.

Melalui sisi isi konten, verifikasi dapat dilakukan dengan mengkaji konten dengan pertanyaan 5W dan 1H (What, Who, Where, When, Why, dan How) serta mengklarifikasi konten dari penerbit yang berbeda. Pertanyaan 5W dan 1H harus dapat terjawab serta memang benar adanya. Ketika konten antar penerbit sama persis dimungkinkan adanya satu sumber yang sama, sedangkan ketika konten tersebut bertentangan dimungkinkan sudut pandangnya berbeda atau mungkin salah satu diantaranya adalah palsu.

2. Curigai konten media yang memiliki indikasi hoax

Hoax adalah artikel atau konten palsu yang berusaha untuk meyakinkan pembaca dan menjadikannya sebagai sebuah kebenaran. Hoax sendiri sudah lama beredar, bahkan sebelum dunia maya ada. Berikut ciri-ciri konten yang disinyalir berupa hoax: (1) umumnya konten terlalu berlebihan, terlalu baik atau mengerikan untuk jadi nyata; (2) tidak adanya jawaban dari pertanyaan 5W dan 1H yang jelas; (3) terdapat ajakan untuk membagikan konten demi maksud yang baik; (4) informasi dalam konten bertentangan dengan kenyataan.

Untuk mengetahui mana konten hoax dari sekian banyak konten yang kita lihat di dunia maya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, diantaranya: (1) lakukan searching pada mesin pencari terkait kebenaran konten. Umumnya konten hoax banyak tersebar di dunia maya namun tulisan di penerbit cenderung sama persis (copy-paste belaka); (2) akses beragam laman yang umumnya mengupas kebenaran suatu hoax. Salah satu laman tersebut adalah Snopes[1] dan IndonesianHoaxes[2]; (3) periksa kebenaran informasi dari pertanyaan 5W + 1H dalam konten tersebut; (4) jika konten yang disinyalir hoax berupa gambar, lakukan image forensics. Image forensics adalah metode analisis gambar berdasarkan data tertanam pada gambar. Sudah ada beberapa laman menawarkan jasa image forensics seperti Imageforensics.org dan Fotoforensics.com.

books-resave-300x225(a)

books-edited-300x225(b)

books-resave-ela-300x225(c)

books-edited-ela-300x225(d)

Citra berwarna (a,b) dan Citra hasil ELA (c,d). Terlihat bahwa pada citra (b,d) terdapat modifikasi gambar berupa buku-buku dan mainan dinosaurus.

Gunakan Pemikiran Islam Sebagai Landasan Berpikir.

Islam sebagai ajaran agama yang rahmatan lil alamin tidak hanya mengajarkan tentang ibadah spiritual saja. Islam mengajarkan bagaimana sebuah ilmu dapat diyakini menjadi pemahaman melalui proses berpikir yang mendalam dan logis. Maka jadilah generasi cerdas dan kritis dalam mengolah informasi, karena kejujuran adalah harga yang mahal di masa ini dan persatuan umat islam bermula dari sini.

[1] http://snopes.com/

[2] http://blog.indonesianhoaxes.com

nb: Terima kasih pada Luthfi Zharif yang telah menulis artikel ini bersama-sama. Untuk melihat tulisan-tulisan sarat makna dari Luthfi Zharif silakan lihat di website beliau : http://zharfi.xyz/islam/tabayyun-dalam-internet/

sumber gambar: image

Post a comment