Keluhan

Beberapa pekan ini menjadi pekan crowded yang mengajarkan makna mengeluh bagi diri ini. Bermula dari memutuskan untuk tidak mengaktifkan jejaring sosial media fast response yang kini sudah berumur 3 minggu, kemudian menjadi anak perpustakaan pusat dari menyapa pagi hingga berpamitan di malam hari, dan terakhir menjadi manusia yang egois akan lingkungan sekitar.

Semua berasal dari kata skripsi, yang ingin saya persembahkan menjadi karya terbaik selama kuliah -sudah 5 tahun ini kepada jurusan hingga orang tua di rumah. Setelah mendengar permintaan dosen pembimbing untuk lulus di periode November 2015 ini, saya pun melakukan pekerjaan skripsi tanpa mengenal waktu dan kesehatan.

Kurang lebih seminggu yang lalu pun menjadi tampukkan yang kuat kepada diri ini, dalam perjalanan pulang menuju kontrakan, saya tetiba sesak nafas yang sangat berat, kepala semakin berat, dan badan lebih lemas dari biasanya. Hingga mimisan pun menjadi faktor penguat, saya harus berobat. Ini keluhan pertama.

Dilanjutkan saat mulai memasuki fase konsultasi penulisan kepada dosen pembimbing, ternyata apa yang dikonsep awal bersama dengan dosen pembimbing pertama ada terdapat perbedaan yang cukup signifikan, dan pada akhirnya harus diminta belajar kembali, waktu untuk pra dan pendadaran pun menipis, akankah november, entahlah. Ini keluhan kedua.

Dan terakhir, saat dimana sekitarmu menjadi musuhmu karena kebaikan yang kamu kira baik. Kawan-kawanku menjadi judes seketika, tak peduli yang sesuai ekspetasiku, hingga ada yang memintaku untuk tak menghubunginya lagi. Berubah? mungkin. Semua sikapku menjadi ‘segol bacok’, dan ego ini menjadi egois pertamaku. Entahlah, apakah aku bisa bertahan dengan hati yang tak bisa bangkit ini. Keluhan ketiga.

Yaa.. berkeluh. Sudah semaklumnya manusia berkeluh, dan saya baru sadar. Saya salah berkeluh, saya berkeluh pada diri sendiri, bukan pada yang punya diri ini. Ya Rabb.. maafkan yang menjauh saat aku meminta keajaibanmu disetiap doa shalatku yang tak bisa aku jamin akan Engkau terima.

Ya Rabb.. maaf.

Ini tulisan tahun 2015, tulisan di mana saya sadar bahwa skripsi itu juga ujian yang akan menjadi hadiah. Ujian kehidupan yang mengajarkan untuk dapat memilih dan untuk dapat egois. Kedua sifat ini susah bagi orang yang sangat ekstrovert seperti saya, di mana akan menyingkirkan arti diri sendiri dibandingkan orang lain.

Padahal perjalanan tersusah adalah perjalanan mengenal diri sendiri. Padahal sebelum bertindak untuk orang lain, kita beres terlebih dahulu dirinya. Ya.. saya belajar egois di sini. Untungnya tidak larut. Terimakasih yang telah mengembalikkanku untuk tidak egois lagi, hanya dengan mengajak ke Gembira Loka dengan mendadak siang itu.

*ceritanya lagi mengulas tulisan sendiri yang sudah lama di blog lama, kalau kata orang itu, merenungkan. Sedang belajar bagaimana cara berpikirnya*