siejak

Berkarya Untuk Sang Maha Karya

Yang Berkesan

“Mana kak tyani?”

Kata itu yang pertama kali mereka ucapkan saat diriku menghampiri di ruang baca anak-anak. Senyuman ini pun hadir menyambut sebelum diriku menyampaikan pesan yang telah dititipkan siang tadi sebelum acara.

Bedah buku dengan judul “Impian Adikku dan Cerita-Cerita Lainnya” karya mereka adalah acara terakhir dalam tahapan kelas menulis Sanggar Menulis Cahaya Periode 2016. Mereka, para adek-adek kece yang selalu mengajarkanku arti bahagia di setiap kali kita belajar bersama di setiap pekannya. Dan hari ini adalah hari terakhir bagiku untuk bertemu mereka dalam agenda yang teragendakan. Berakhir kesal, haha.

Kesal karena yang diucapkan mereka setelah acara formal selesai, adalah mencari sosok salah satu trainer mereka. Bukan hanya kata “Mana kak tyani?” namun banyaak kata-kata serupa yang ditembakkan langsung kepadaku. Mereka kangen sosok kakaknya ini. Dan kakaknya ini sudah menaruh kesan terdalam di hati mereka. Itu yang terbesit dalam benakku saat menjelaskan ketidakhadirannya siang ini.

“Kak tyaninya izin gak datang”

“Lah, kenapa kak?” diikuti muka cemberut dan manja seperti biasanya

“Kakak tyaninya lagi menyiapkan ujian kelulusannya, jadi tidak bisa datang nih. Hayo pada kangen yaa?” usilku.

“Bukan hanya kangen kak, tapi pengen cerita banyak, aku sudah masuk SMP Assyifa, pengen nanya ngepondok gimana” sahut salah satu bocil

“Kalau aku pengen minta saran kak tyani, tanggal 2 juni mau ujian masuk SMP, eh kamu nomor berapa ujiannya?” sahut yang lainnya

“Aku nomor bla bla bla” dan mereka pun sibuk saling cerita, ada yang menimpalkan kata setuju, ada yang nyelipin cerita masuk SMPnya dan ada yang dicuekin, ya itu saya, ahaha.

Begitu yaa, kalua sudah berkesan. Ia akan selalu ada dan dicari. Mungkin sudah sampai tahap menginspirasi, hingga beberapa orangtua adek-adek mencari kakak satu ini. Benakku berpikir, nih adek-adek sudah cerita apa aja ya soal kakak satu ini di rumahnya, yang pasti seru, baik dan bahagia.

Namun.. begitulah kesan. Ia hadir ketika sedang tidak ada. Namun ada yang dikorbanin, berupa kehilangan dalam bentuk apapun.

“ Eh, eh, mau nyampain pesan apa nih buat kak tyani?” potongku disela obrolan mereka

“Semangat”

“He? Cuman itu?”

“Ya, semangat buat apapun. Kak tyani harus semangat, eh fotoin dong kita lalu dikirim ke kak tyani”

“Baik baik deh, udah sana bergaya, kakak fotoin”

terkadang pesan itu tak perlu panjang, cukup singkat dan bermakna. Seperti saat ini, diam adalah pesan.

 

Lalu, muncul pertanyaan, bagaimana kesan ini menjadi abadi? Tak ada yang pergi.

Doa terus menerus. Allah yang menjaga.

:’)

Sampai jumpa kembali para adek-adek SMC Angkatan 8 yang telah mengajarkan banyak hal. Mari bertemu di saat dewasa dalam keadaan terkece kalian. Tetap dalam jalan kebaikan! Kakakmu selalu mendoakan kalian. 🙂

Denganmu – Brian KP

angin malam bertiup mendinginkan dunia
bulan pun merajut membisikkan setiamu padaku
otakku pun terhanyut memikirkan mimpinya

denganmu terhapus semua penat duniaku
denganmu kau buka semua jalan pikiranku
kau harapanku

embun pagi pun turun membasahi dunia
bunga pun merekah memenuhi janjinya pada dunia
sebelum ku pun terhanyut memikirkan harinya

denganmu terhapus semua penat duniaku
denganmu kau buka semua jalan pikiranku
kau harapanku

denganmu terhapus semua penat duniaku
denganmu kau buka semua jalan pikiranku
denganmu kau hapus penat duniaku
denganmu kau buka semua jalan pikiranku, kau harapanku


Terima kasih buat semuanya yang pernah terjadi.

Tersimpa sebagai harta karunku.

Ganti Tema Tumblr

” Kenapa kalau kamu nulis di word selalu memakai layout bukan putih? Dan seringnya ungu. Itu kan abnormal dari kebiasaan orang” sahutku saat itu setelah menerima file cerpen yang kamu kirimkan tiba-tiba ke emailku, tentunya berbentuk word

” Karena “silau” ketika melihat layar putih, selain itu juga lebih semangat kalau dikasih warna-warna, hehe. Selain itu bukan hanya layout yang tak ubah, font yang dipakai pun aku suka mengubah-ubahnya, no TNR! ” jawabnya dengan gaya songong seperti biasanya.

” Berarti kamu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memulai menulis kan yak?!” pertanyaan retoris yang sengaja aku ajukan, hanya untuk mendapatkan kata iya darinya.

” Tentu! hehe” gigi tonggosnya pun ikut muncul disela senyumnya.

Walaupun kamu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memulai menulis sesuatu, tetap saja tulisanmu yang selalu aku tunggu. Walaupun (lagi) hanya satu kata yang muncul di dunia mayamu. Tulisan lamamu pun selalu aku suka reread, hehe.


Dan semoga dengan menggunakan caramu ini, semangat nulisku kembali datang. Setelah lama aku dihampiri rasa bosan menulis di tumblr. Mangatse!

Terwakilkan

jauh

tiba ku di tepi hatimu
telah jauh, rasaku ingin memilikimu
namun ku di depan matamu
masih jauh, langkah-langkahku hanya sebatas rindu

sabarlah sayang,
ku sedang berjuang
segenap daya ku menujumu
mendoakanmu
menyiapkan ruang
sebelum hadirmu

ku tak akan meletih, meski ku tertatih
mengeja cinta, membuatnya nyata
ku kan terus melatih, hati yang kini ringkih
Tuhan ku meminta, tunjukkan waktunya

maukah kamu menunggu juga?
sementara~

Tulisan barusan Kak Uti di tumblr

Stress karena Overload? Coba Lakukan hal ini untuk Mengatasinya (Repost)

Bagi orang-orang yang bergelut di dunia startup, yang katanya terkenal dengan sangat sibuk, kondisi overload atau beban kerja yang menumpuk berlebihan mungkin sangat sering terjadi. Titik dimana semuanya menumpuk dan membuat kita ingin mengangkat tangan melambai-lambai ke kamera, lalu berkata, “cukup, saya menyerah!” 😀
Jangan kepedean, hal tersebut dialami tidak hanya oleh diri kita sendiri saja, ada banyak sekali manusia di dunia ini yang mengalaminya juga, terlebih di era banyak sekali distrupsi di mana-mana, dari smartphone, social media, email, telpon, televisi, dll.
Beban atau pekerjaan yang rasanya sangat menumpuk bukan hanya bisa membuat seseorang stress, tapi juga bisa mengganggu kodisi di luar dirinya, kita bisa sangat mudah mengambil keputusan yang salah, banyak terlupa pada hal-hal krusial yang harusnya dilakukan, dan mengacaukan banyak hal.
Saya ingin berbagi hal menarik yang saya dapatkan dari Caroline Webb dalam bukunya berjudul How to have a Good Day. Karena bagusnya, saya sampai baca buku ini dua kali 😀 Ia menceritakan dengan sangat inspiratif namun juga practical, cara-cara untuk membuat diri kita bisa lepas dari kondisi overload tersebut.

 

Photo credit: http://Gipfy.com

 

1. The Mindful Pause
Terkadang di awal yang kita perlukan adalah melakukan perhentian sejenak untuk menenangkan kembali pikiran kita. Salah satu teknik menarik yang diperkenalkan Caroline adalah dengan melakukan Triangular Breathing, ketika kita menarik nafas dalam 3 hitungan, menghembuskan nafas dalam 3 hitungan, dan berhenti dalam 3 hitungan. Hal tersebut jika dilakukan ketika kita sedang stress akan bisa mengurangi kecepatan detak jantung kita, mengirimkan sinyal kepada otak kita bahwa ancaman sudah reda, sehingga mengurangi sinyal stress yang sedang terjadi.

2. Outsource Your Memory
Jangan simpan semua kekhawatiran kita di otak kita saja, terutama jika hal tersebut menjadi interupsi-interupsi seketika pada otak kita yang bisa mengganggu konsentrasinya. Ketika hal itu terjadi coba “outsource memory” otak kita ke tools eksternal seperti buku catatan atau alat perekam. Bangun kebiasaan untuk mencatat atau merekap setiap interupsi berupa pemikiran, kekhawatiran, ingatan yang muncul atas tugas yang belum dikerjakan dll.

3. Most Important Thing First
Jika kita diharuskan hanya boleh memilih satu hal saja yang kita harus kerjakan di hari ini, apakah itu? Temukan apa hal paling penting yang harus dikerjakan hari ini, satu saja. Hal ini bisa menjernihkan pikiran kita dengan sangat efektif, membuat kita mampu mengetahui dan fokus pada satu hal saja yang paling prioritas saat ini.

4. The Smallest First Step
Setelah kita tahu apa yang paling penting, jika hal tersebut terlampau kompleks dan kita masih merasa stuck, pertanyaan selanjutnya adalah, apa hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk berlanjut ke tahapan selanjutnya. Langkah kecil ini berfungsi untuk mengurangi beban di pikiran kita dengan mengalihkan usaha yang tadinya ditujukan kepada sesuatu yang sangat berat menjadi lebih simple dan mudah. Tugas berat seperti membuat persiapan pengambangan fitur baru, bisa dimulai dengan ngopi bareng dengan CTO kita sambil membicarakan ide fitur yang ingin kita kembangkan.

Photo Credit : http://giphy.com

5. Your Competitive Advantage
Ada kalanya kita sudah menemukan apa hal terpenting yang harus diselesaikan, sudah jelas juga langkah-langkah kecil yang harus dikerjakan, tapi ternyata masih juga banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam to-do-list kita. Nah langkah selanjutnya adalah mengenali competitive advantage kita dan mendelegasikan/outsource sisanya kepada orang lain. Cari dan fokuslah pada hal yang kita sangat ahli dan hanya kita yang bisa mengerjakannya, lalu relakan yang lainnya dikerjakan oleh orang lain yang jika mengerjakan hal tersebut ternyata juga bisa menghasilkan kualitas yang relatif baik.

6. Set Your Boundaries
Pernah merasakan sendiri the power of deadline kan? kita diberikan waktu 2 pekan untuk menyelesaikan tugas, tapi tetap saja tugas tersebut diselesaikan 2 jam sebelum deadline berlangsung. Ternyata batasan seperti deadline tersebut bekerja untuk kita. Buatlah batasan-batasan untuk kita sendiri seperti jam 6 sore sudah harus pulang, jam 12 siang harus makan siang, ketika di rumah maka hadirlah sebagai anggota keluarga rumah kita, ketika di kantor hadirlah seperti anggota kantor kita sepenuhnya. Batasan-batasan ini akan memaksa kita bekerja efektif dan kita akan mencari strategi-strategi untuk bisa memenuhi target dengan batasan-batasan yang kita ciptakan sendiri. Kitalah yang harus ambil kontrol dalam keseharian kita, kalau tidak maka waktu 24 jam sekalipun tidak akan cukup untuk menyelesaikan semua yang kita harus kerjakan.

7. Automate Small Stuff
Siapa saja yang selalu bingung memakai baju apa ke tempat kerja tiap hari? Nah hal-hal kecil seperti ini harusnya tidak perlu mengganggu pikiran kita, otomasikanlah pengambilan-pengambilan keputusan kecil setiap hari ini dengan membuat rules-rules yang akan kita patuhi. Rules tersebut berguna untuk mensimplifikasi pengambilan keputusan tersebut, itulah mengapa Zuckerberg hanya pakai kaos abu2 setiap hari, Barack Obama hanya pakai jas abu-abu atau biru, atau Chancellor Angela Merkel hanya pakai satu jenis desain jaket. Semuanya mengotomatisasi prose pengambilan keputusan kecil dengan aturan yang mereka buat sendiri sehingga tidak memakan beban bagi pikiran kita. Hal ini juga perlu diimplementaskan dalam situasi-situasi pengambilan keputusan kecil harian lainnya seperti kondisi seperti apa untuk kita mengangkat telpon, kapan dan makan apa kita hari ini, kapan olah raga, kapan makan dan sebagainya.

Photo credit : http://giphy.com

Itu saja beberapa tips practical yang bisa kita terapkan untuk membuat kita mampu me-manage stess karena overload. Jangan lupa juga dari kesemua hal tersebut, yang tak boleh dilupakan adalah tetap melakukan semua aktivitas kita dalam bingkai ibadah kepada-Nya, dan kita selalu percaya semua beban yang kita emban saat ini tidak pernah lebih tinggi dari kapasitas kita untuk memikulnya. Tinggal tools dan cara seperti apa yang harus kita lakukan untuk membawa beban tersebut yang harus kita cari dan gunakan. Karena kita manusia yang dilengkapi dengan akal untuk berpikir, maka mari kita senantiasa belajar menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari. Selamat menjadi pribadi yang lebih produktif lagi, semangat! :)


Source from: http://senjaya.net/overload/
baca dari facebooknya fitri hasanah amhar.

noted banget point-point di sini. makasih 🙂

Untitled 22

Believe it or not.

Kamu akan lebih bersyukur ketika ada nikmat yang dicabut darimu. Salah satunya merasakan air wudhu.

Kamu akan lebih bersyukur ketika ada nikmat yang dicabut darimu. Salah satunya akhlak sabar di waktu yang genting.

Kamu akan lebih bersyukur ketika ada nikmat yang dicabut darimu. Keberadaan orang yang kamu sayangi.

Kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban diri ini. Nikmat mana yang tidak engkau syukuri.

Dan saya akan selalu mendoakan nikmat-nikmat yang mulai dicabut dariku. Mungkin itu cara terakhir untuk aku bersyukur.

Terimakasih.

Impian

Setiap individu pasti akan memiliki impian dalam hidupnya. Perlahan tapi pasti, impian itu akan menjadi penyelamat ketika hidup makin tidak jelas arahnya. Ada yang menulisnya dalam target 100 impian, ada yang memvideokan dan ada pula yang menitipkan melewati cerita-cerita dalam forum. Proposal impian mungkin namanya.

Namun entah kenapa tidak begitu pada diri ini.

Selalu memilih menjadikan impian orang lain menjadi nyata. Menjembatani dalam bentuk apapun, entah waktu hingga material. Cari perhatian? tidak pernah berpikir untuk itu. Sok baik? ah aku lebih suka dibilang pahlawan kesiangan.

Apakah impianku adalah mewujudkan impian orang-orang kesayangan? aku tetap tidak tau, namun yang aku tau aku bahagia ketika mereka tersenyum, tertawa hingga hanya berkata ini pertama kali aku menonton 3D. Aku bahagia melihatnya.

Tetapi..

Aku sadar.. jika aku selalu begini, maka aku akan mati dimakan oleh waktu yang tak bertujuan. Sampai kapan kamu tak bisa egois, diriku …


Aku pernah ditanya, “apa arti sukses menurutmu?”
Dan aku menjawab tanpa membutuhkan jeda berpikir yang lama, “Aku ingin melakukan sesuatu yang bahagia dan membahagiakan orang banyak, tentunya berujung akhirat”

Apakah itu impianku?

Doa untukmu

Dirimu kuat, sekuat doa-doa yang menyangaimu untuk dapat melalui seluruh agenda yang diberikan olehNya. Kamu hanya butuh bergerak satu langkah demi langkah. Kamu kuat, Allah selalu berada padamu.

Kabarin..

Kabarin..

Kabarin..

Belajar Move On (1)

Pagi tadi sekitar jam 10, takdir Allah kembali lagi memberi pelajaran pada diri ini. Semenjak kepulangan dari Bandung pada bulan ini, diri ini semakin nekat untuk mencari sumber rejeki. Dan salah satunya kehadiran diri ini pada salah satu rapat penelitian rutin anak-anak Fisika MIPA UGM, entah dia berstatus skripsi, thesis hingga disertasi. Pemimpin forum ini yaitu Pak Kamsul, salah satu dosen kece yang ada di UGM. Beruntung sekali bisa bertatap muka hingga berkerja sama dengan beliau. Selama ini hanya tau dari omongan mahasiswa MIPA kenalan saya saja. Alhamdulillah.

Ohya, saya berada di fakultas ini bukan berarti sedang melanjutkan S2 di sini yap, hehe. Walaupun ada terbesit ingin S2 di sini, ya masih terbesit, belum diseriuskan benar-benar. Kembali ke topik, saya berada di sini sesuai dengan penjelasan di awal, mencari sumber rejeki lainnya. Biasa, PNS, Pencari Nafkah Serabutan, hehe. Tawaran yang ditawarkan salah satu kakak tingkat saat itu adalah menjadi Web Maintance, kerjaan di luar dari apa yang diajarkan di kelas selama ngampus, lagi dan lagi hehe. Awal, saya kira pekerjaan ini akan mudah, mudah untuk merangkap dengan pekerjaan yang lain. Ternyata, web yang saya urus adalah web IPHO, kegiatan Internasional, dan saya sendirian -.-”

Sudah pada kenal kan ya sama IPHO? International Physics Olympiade? Olimpiadenya Fisika anak-anak SMA hingga SMP se-internasional. So, full english, padahal diri ini sedang belajar kembali menata bahasa inggris yang berantakan karena jarang dipakai -.-, benar-benar nekat dah untuk PNS satu ini. Kalau ditanya kenapa masih nekat, padahal tadi masih ditanyakan kesediaanya oleh Pak Kamsul, setelah dipikir-pikir, alasan satu-satunya yaitu ingin berada di Jogja lebih lama. Karena masa kerja yang memberikan alasan berada di kota ini akan habis di bulan depan. Hahaha, semoga nekat ini bisa segera saya kendalikan dan bertanggung jawab atas nekat itu sendiri. Masa IPHO ini ternyata cukup menguras waktu dan tenaga, karena diminta bekerja dari senin bertemu senin dan di jam kerja, ya pagi hingga sore. Hufh, kuatlah badan dan niat ini!

kok jadi curhat ya -.-

Padahal tujuan awal nulis ini ingin mengutip kata-kata Pak Kamsul, yang saya terjemahkan dalam makna move on. Ini nih kalimatnya:

Harga menginap semalam di hotel bintang 5 itu sekitar 1 juta lebih, menurut teman-teman itu mahal tidak? Kalau menurut saya tidak mahal, selama kalian mengejar bagaimana mencari uang sebanyak itu atau lebih, bukan berpikir betapa mahalnya 1 juta lebih.

kira-kira begitu yang beliau sampaikan, saat bercerita akomodasi ke bali saat IPHO diadakan tahun depan.

Kalau yang saya dapatkan dari kalimat itu, bahwa jangan terpatok pada target yang dituju, namun tuangkan lebih usaha dan waktumu kepada cara meraihnya. Seperti lulus, cari lah bagaimana move on untuk tidak malas dan memilih bergerak mengerjakannya, dan seperti nafkah, ingin mampu dan mapan, jangan memikirkan duitnya tetpai carilah pekerjaanya. Karena ketika ada pekerjaan, maka duit itu akan datang.

Hahaha.. perjalanan di jogja dimulai kembali. Saya memilih maju, tidak lagi untuk mundur.

Semoga berkah!

Rektorat, dalam agenda pertanggungjawaban pekerjaan
penelitian selama satu tahun kemarin

Doa

Ia akan serasi dan sepasang jika usaha yang membersamai doa juga ada. Doa juga tak ingin berjalan sendirian.

Pages:1234